Teori Kesuksesan: 10.000 jam saja

Februari 19th, 2009

“10.000 jam saja cukup untuk menjadi master di bidangmu”

Baru saja saya beli buku “OUTLIERS” yang mengulas teori kesuksesan yang ditulis oleh Malcolm Gladwell. Ia melakukan riset bahwa ternyata orang-orang sukses di bidangnya hanya membutuhkan latihan 10ribu jam untuk mencapai kesuksesannya. Ia menceritakan bagaimana Bill Gates, master violin, dan Bill Joy (Pencipta internet) menghabiskan 10rb jam tersebut.

Dalam ceritanya sebenarnya ia tidak hanya cerita 10ribu jam, melainkan juga OPPORTUNITY. Jadi kalo ga ada opportunity tapi kita melakukan 10rb jam itu tampaknya hasilnya ga bakalan seperti Bill Gates atau Bill Joy. Misal anda tukang becak, terus anda melakukan kayuhan 10rb jam. Apakah ini namanya kesempatan? tentu tidak. Lalu kesempatan seperti apa ya ng diceritakan Gladwell? mari kita simak cerita berikut (yang sudah saya paraphrase kan):

Universitas Michigan merupakan salah satu universitas pertama yang memiliki komputer waktu itu. Beruntung Bill Joy menjadi asisten komputer disana. Waktu itu memang belum banyak orang mengenal benda bernama komputer ini. Mangkanya dia dijuluki master oleh teman-temannya ketika itu. Dengan julukan itu ia semakin tertarik dengan dunia komputer, jam demi jam ia habiskan di depan komputer tersebut, sementara beberapa universitas bahkan belum mengajarkannya. Waktu PhD di Barkeley pun ia mulai masuk ke dalam jantung ilmu komputer. Ia pula yang menjadi orang pertama yang menulis kode perangkat lunak yang memungkinkan manusia berkoneksi lewat internet. Akumulasi kesempatan itulah yang menjadikannya bisa menciptakan perangkat lunak tersebut. Mulai dari kesempatan menjadi asisten komputer dimana orang lain belum mengenal komputer hingga kuliah di Barkeley yang mana pusat komputer waktu itu.  Ini yang dinamakan gladwell kesempatan + 10rb jam. Masih belum jelas? ok mari kita lihat contoh Gladwell lainnya.

Gladwell mengamati bagaimana master violinist diciptakan di sebuah akademi musik di Berlin. Akademi ini ternyata membagi peserta didiknya dalam 3 bagian. Kelas pertama mereka yang umumnya bakal menjadi solo stars di masa depan, kelas kedua mereka yang umumnya ‘good’ dan bermain di band, dan kelas ketiga adalah mereka yang ingin belajar violin hanya ingin jadi guru. Yang menarik ketika Gladwell bertanya ke mereka adalah mereka mulai memegang violin pada umur yang relatif sama, yaitu 5 tahun. Yang membedakan adalah jumlah latihan mereka. Kelas tiga umumnya latihan 3 jam seminggu ketika mereka dewasa (bahkan mungkin ga latihan karena sibuk ngerjain PR). Kelas dua lebih banyak lagi dan yang menarik kelas tiga yaitu sang calon solostars menghabiskan waktu 30 jam dalam seminggu sehingga pada umur 20an mereka telah menghabiskan 10rb jam untuk latihan. Dan tepat pada umur 20an itulah mereka umumnya menjadi master violin dunia. Dari sini Gladwell menyimpulkan, untuk menjadi master Violin anda harus kaya. Ga mungkin kan anda menghabiskan waktu anda untuk part time job untuk memenuhi kebutuhan anda? Disini Gladwell menegaskan opportunity yang dimiliki anak-anak yang orang tuanya sangat mendukung kegiatan mereka mulai dari segi dana hingga moral (lebih baik latihan violin daripada belajar sekolah). Mungkin itu juga yang menyebabkan anak musisi umumnya jadi musisi juga. Jadi belum tentu bakat! percayalah!!

Masih belum yakin? mari kita dengar cerita Bill Gates. Ia mengenal komputer pertama ternyata saat kelas 2 SMP ketika ia join Computer Club di SMPnya. SMPnya juga termasuk SMP pertama di Amerika yang punya komputer. Ini OPPORTUNITY pertama yang dimiliki Gates, yaitu SMP nya menganggarkan dana untuk komputer, bahkan universitas pun belum menganggarkan. Beruntungnya lagi waktu itu ada perusahaan perangkat lunak yang meminta computer clubnya Gates mengetes software buatan mereka. Langsung saja Gates belajar banyak sampai akhirnya ia kerja di perusahaan tersebut ketika SMA. Hari-hari SMA-nya juga ia habiskan dengan dunia programming dengan koneksi dari perusahaan tadi. Gladwell berpendapat, mungkin ketika Gates DO dari Harvard itulah ia telah menghabiskan waktu 10rb jam dalam dunia programming.

Dengan 10rb jam anda bisa tau apa yang harus anda lakukan dan apa yang tidak harus anda lakukan. Belajar adalah seni, ketika salah jangan diulang, ketika benar kita menemukan jalan yang benar.

Substantial Entrepreneurship (Part II)

Januari 22nd, 2009  Tagged

Banyak wirausahawan hebat Amerika umumnya lulusan universitas.  Seperti sergey brin/Larry Page (pembuat Google), Warren Buffet, dan Jerry Yang (pembuat Yahoo), dan masih banyak lagi. Saya kira ini wajar, karena lingkungan kampus sangat mendukung untuk tumbuhnya jiwa-jiwa wirausaha seperti yang saya paparkan di part I. Lalu bagaimana dengan wirausahawan seperti Bill Gates, Steve Jobs, dan Michael Dell yang tidak pernah lulus di universitas? Bisa dibilang, Amerika merupakan negeri yang cukup banyak memiliki wirausahawan yang tidak lulus kuliah. Cukup sulit untuk menjelaskan fenomena ini. Tapi saya memberanikan diri membuat tulisan ini. Mereka yang sukses wirausaha tanpa kuliah, yang ada dibenak saya pasti lingkungan dan budaya tempat dia tinggal sangat mendukung. Tak salah memang, selama berada di negeri ini, saya amati budaya masyarakatnya sangat mendukung tumbuhnya jiwa wirausaha. Saya mengamati bagaimana budaya primordial tidak bisa tumbuh disini. Anak muda yang hebat tentu lebih disegani dari orang tua yang tidak bisa apa-apa. Masyarakat Amerika sangat menghargai kapasitas individu. Mereka juga sangat apresiatif terharap suatu ide apalagi sikap suka memujinya yang tidak bisa saya lupakan.

Mereka umumnya juga pemberani dan percaya diri. Anak-anak kecil disini sangat berbeda dengan anak kecil di Indonesia. Anak kecil di Amerika sangat dewasa sekali. Mereka bahkan bisa bebas berdebat dengan orang dewasa akan suatu hal tanpa ada larangan. Ini tentu bisa menumbuhkan sikap kreatif. Kalo kita mengajukan pertanyaan ke anak kecil disini “Apa ada pertanyaan?”, hampir seluruh anak mengangkat tangannya. Yang saya lihat di Indonesia, budaya seperti ini cukup jarang ditemui.

Satu lagi yang amat sangat kental, masyarakat Amerika sangat logis dan efektif. Budaya ini menarik buat saya karena saya menemukan fenomena yang sangat berbeda dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Tentunya budaya seperti ini bisa menjadi faktor juga kenapa wirausahawan yang tidak kuliah bisa tumbuh subur di negeri ini. Ketika datang pertama kali ke negeri ini, saya terkejut dengan banyaknya toko barang bekas disini. Di toko buku besar (kalo di Indonesia mungkin sekelas gramedia), juga banyak menjual buku-buku bekas. Anehnya buku-buku bekas ini seperti baru, hampir sangat sulit membedakan antara bekas dan baru. Saya kadang berpikir, kalau buku-buku dan barang-barang bekas orang Indonesia larinya pada kemana yah? perlu ada riset lebih mendalam sepertinya untuk menjawab pertanyaan ini.

Selain barang bekas yang dengan mudah bisa kita temui, budaya logis dan efektif mereka juga bisa kita temui di papan pengumuman di berbagai tempat. Yang sering saya temui, banyak pengumuman mahasiswa yang mencari teman serumah karena ia di rumah sendiri. Selain itu juga kalau pergi ke suatu tempat yang jauh umumnya mereka menawarkan tumpangan di papan ini, tentunya yang mau ikut harus ikut bayar bensin. Demikian juga sebaliknya jika mau pergi ke suatu tempat pada tanggal tertentu umumnya mereka menempel info kalau mereka butuh tumpangan. Papan itu setiap hari sering berubah kontennya saya amati, sangat dinamis. Yang lebih menarik lagi adalah, budaya setelah makan masyarakat sini. Adalah sangat umum bagi masyarakat sini untuk membawa pulang makanan sisa apabila tidak habis. Cukup minta kardus ‘take home’ trus masukin deh makanan itu, mereka dengan pedenya bilang “I don’t have money” ketika saya tanya ‘kenapa dibawa pulang? di Indo itu makanan bekas lo..’. Lagi, banyak saya temui orang bawa mobil di dalemnya isinya kaleng bekas. Mereka datang ke vending machine tempat penukaran kaleng/botol. Setiap kaleng/botol dihargai 5 sen oleh vending machine itu. Saya juga terkejut melihat fenomena ini, bagaimana bisa orang bawa mobil didalamnya isinya sampah botol/kaleng. Masyarakat disini sangat menghargai sekecil apapun yang mereka punya.

kaleng

Pada nuker kaleng/botol dengan duit

Apa-apa yang saya lihat di atas baru sedikit dari budaya masyarakat sini yang sangat relevan dengan tumbuh kembangnya jiwa-jiwa entrepreneurship masyarakatnya. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia.

Substantial Entrepreneurship (Part I)

Januari 22nd, 2009  Tagged

Amerika merupakan negara dengan PDB paling besar di dunia. Bahkan hampir sama dengan gabungan seluruh PDB seluruh negara Eropa. Ini berarti kegiatan ekonomi di negara ini sangatlah besar. Yang membuat saya heran adalah, kenapa wirausahawan-wirausahawan hebat umumnya datang dari negeri ini? Bill Gates, Waren Buffet, Richard Branson, Dell, Steve Jobs merupakan sedikit dari banyak wirausahawan dari negeri ini yang menjadi tonggak kemajuan bangsa ini. Jadi terinspirasi kata Malcolm Gladwell dalam buku barunya Outliers, orang-orang seperti ini tidak bisa dicetak begitu saja. Ia, bak pohon yang tinggi, tidak lahir hanya dari bibit yang bagus, tapi juga karena ada matahari yang menyinarinya, ada tanah yang membuatnya tumbuh subur, dan juga ada zat-zat yang mendukung buat ia tumbuh tinggi.

Keheranan saya membuat saya mencari tau faktor-faktor yang membuat mereka tumbuh sedemikian banyak, paling tidak di kampus tempat saya belajar. Berbeda dengan gerakan wirausaha di kampus ITB Indonesia yang umumnya independen dan terkesan underground. Di kampus amerika ini gerakan entrepreneurship memang serius didukung oleh kampus. Sering sekali ada pengusaha atau praktisi entrepreneurship yang datang ke kampus untuk mengisi seminar dan resmi diundang oleh rektor. Di kampus ini juga ada lembaga yang bernama Austin Entrepreneurship Program (AEP). AEP memiliki program-program yang sangat bagus untuk mahasiswa kampus ini yang ingin menumbuhkan jiwa wirausaha. Mereka punya satu gedung yang sebagian besar digunakan untuk asrama bagi mahasiswa yang ingin menumbuhkan jiwa wirausaha. Mereka juga diberi ruang khusus untuk mereka yang ingin berwirausaha.

Ketika saya berkunjung ke AEP untuk mencari info lebih dalam tentang apa yang mereka lakukan, saya cukup terkejut. Salah satu pengurus AEP menuturkan bahwa AEP tidak menyarankan mahasiswa untuk memiliki usaha. Akan tetapi tugas mereka hanya menumbuhkan jiwa-jiwa wirausaha, diantaranya : berani mengambil resiko, kerja keras, kreatif, sosial, passion, dan juga mandiri. Saya kemudian diajak mereka untuk mengikuti proses pembentukan jiwa-jiwa itu, yaitu mengikuti kelas Introduction to Entrepreneurship.

Masuk kelas ini serasa tidak sedang mengikuti kelas entrepreneurship seperti di Indonesia yang cenderung provokatif. Kita hanya diberi tugas mengeksekusi project Boys&Girls (akan saya ceritakan lebih lanjut). Project ini semacam project sosial yang ditujukan bagi anak-anak SD, SMP, dan SMA di daerah sekitar kampus. Dari project inilah sang dosen menumbuhkan jiwa-jiwa yang saya sebutkan di atas. Setiap proses dalam eksekusi project ini, sang dosen benar-benar menanamkan nilai-nilai wirausaha. Baru saja sore tadi ikut kuliah ini, begitu teringat di kepala saya dosen itu cerita tentang bagaimana bisnis besar teletubies dibuat. “Bisnis bernilai triliunan ini awalnya dibuat dari iseng-iseng ibu rumah tangga yang berusaha membuat anaknya yang belum berumur 1 tahun lebih atraktif. Demikian juga project ini, kalian bisa menyelediki dan memikirkan hal-hal kecil yang menantang anda, sehingga jadi bisnis. Maka kerjakan dengan hati/passion.”

Tampaknya, besarnya jumlah wirausaha hebat (terutama lulusan universitas) dari negeri ini tidak terlepas dari faktor di atas. Dukungan dari institusi dimana masyarakat Amerika hidup yaitu universitas. Tidak hanya kampanye untuk punya usaha tetapi bagaimana jiwa-jiwa wirausaha itu bisa tertanam dalam diri mahasiswa-mahasiswa amerika, yang saya anggap ini sebagai “Substantial Entrepreneurship”.

Harga buah di US dan Indonesia

Januari 9th, 2009  Tagged

Kesukaan saya terhadap buah membuat saya harus membeli buah di sini. Seperti halnya ketika di Indonesia yang biasanya saya beli satuan, di sini buah juga dijual satuan. Yang menarik bagi saya adalah, harga buah di Indonesia dan di Amerika berbeda. Biasanya saya membeli buah karena hargadan nilai/gizi buah itu. Saya berusaha mendapatkan buah yang memiliki nilai gizi besar dengan harga rendah (standar motif ekonomi). Di Indonesia, hampir sangat sulit saya menemukan buah dengan motif seperti ini. Buah yang nilai gizinya besar ya harganya lebih mahal sebaliknya yang nilai gizinya kecil harganya rendah. Contoh : Nilai gizi Apel dengan serat dan vitamin C nya lebih mahal dari pisang dengan karbohidratnya. Kadang saya bisa menggunakan motif ini ketika musim buah tiba, contoh : mangga. Oh ya, seingat saya urutan harga buah dari yang termahal adalah : anggur, apel, jeruk, peer, mangga, pisang, pepaya.

Nah, sekarang selain karena musim buah, saya dengan mudah bisa menemukan buah di Amerika dengan menggunakan motif di atas. Struktur harga buah disini berbeda dengan di Amerika. Buah anggur rasanya paling murah disini (kelasnya sama dengan pepaya). Kalo di Indonesia pepaya murah banget sedang anggur mahal banget. Disini mangga juga termasuk buah kelas atas karena harganya paling mahal. Padahal di Indonesia termasuk kelas rendah, apalagi pas musim mangga tiba. Setidaknya itu yang ada di persepsi saya. Jelas menghadapi kondisi seperti ini, saya sering memilih buah yang harganya paling murah dan memiliki nilai gizi paling besar, yaitu Jeruk, anggur, dan apel. Ketika buah tersebut termasuk buah paling murah di sini.

Fenomena-fenomena di atas tentu bukan barang baru bagi kita terutama orang ekonomi. Ada teori yang bisa menjelaskannya. Adam Smith sudah mengamatinya ratusan taun yang lalu. Itulah kenapa muncul teori permintaan dan penawaran. Tentu pepaya dan Mangga disini mahal karena disini mungkin jarang tumbuh mangga atau pepaya. Jeruk, Apel, dan anggur murah karena disini banyak yang nanem. Bahkan sampe diekspor ke Indonesia. Apel yang merah-merah di Indonesia umumnya dari Amerika.

Phone Charging Service, Business Opportunity

Desember 23rd, 2008  Tagged

Long ago, I had problem that my phone battery was empty. I was at Gambir Station Jakarta. I confused because I must call someone. But, I was safed by masjid keeper when I would get to pray. He asked me about charging service. I don’t believe it at first, he showed all of Phone Charger type that he has. He charged me 3000 IDR per phone charging. That’s great idea I think.

I call this as business opportunity. Imagine that all people using mobile phone now. They are huge potential market. I also saw many other client of him when i was charging my phone. In my humble opinion I think this business must be tried.

But if we talking about new entrants, it will be huge if you run this business. Because there is too easy for your competitor to get phone charger. They will be you potential competitor. This make it don’t have competitive advantage. However, it is great idea…

Kesalahan yang umum dilakukan pengusaha pemula

Desember 5th, 2008  Tagged

Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi (karena saya banyak gagalnya..he..he..) dan juga dari pengamatan temen-temen (kebetulan lingkungan juga kalangan entrepeneur dan mereka beberapa ada yang gagal juga ternyata). Tulisan ini juga dibuat untuk memenuhi kebutuhan wirausaha. Karena satu hal yang saya suka dari seorang wirausaha adalah jangkauan belajarnya yang sangat luas. Saya harap tulisan ini juga bisa dijadikan pelajaran bagi mereka sehingga tidak mengulang kesalahan yang telah dilakukan oleh orang-orang yang telah salah. Saya percaya dunia entrepreneurship yang selama ini dianggap sebagai seni (sesuatu yang ga teratur) bisa dikristalkan menjadi sebuah pengetahuan, yaitu sesuatu yang memiliki pola/pattern teratur sehingga bisa dipelajari.

1. Melakukan segalanya sendiri (single fighter)

Di awal menjalani kehidupan berwirausaha saya punya sifat seperti ini. Mungkin juga karena lagi semangat2nya dan idealis2nya. Entah kenapa teman-teman saya wirausaha pemula juga beberapa melakukan hal ini dan mereka sepertinya gagal juga. Analisis saya kenapa orang melakukan wirausaha sendiri gagal adalah mungkin karena mereka jarang melihat sudut pandang lain. Setiap mengambil keputusan mereka menggunakan sudut pandang pribadi. Padahal kalo ilmu masih cetek keputusan tersebut cenderung salah. Tapi ada juga yang wirausaha sendiri berhasil. Temen-temen saya yang berwirausaha sendirian (single fighter) berhasil umumnya mereka memiliki sifat berikut : supel, banyak teman, humble. Analisis saya lagi, mungkin dengan sifat inilah mereka mendapatkan banyak masukan atau sudut pandang lain sehingga keputusan-keputusan bisnisnya kemungkinan besar tepat. Oh ya, saya ga percaya kalo dikatakan wirausaha hebat punya intuisi, yang ada adalah mereka tekun dan terus belajar dari apa yang ada di sekitarnya. Ini yang saya rasakan.

2. Salah memilih bidang bisnis
Lagi-lagi ini pengalaman bisnis saya juga. Tapi lagi-lagi beberapa temen yang gagal saya amati juga demikian. ketepatan memilih bidang bisnis menurut saya cukup urgent. Kenapa sih bidang bisnis yang dipilih harus tepat? jelas, ini menentukan sustanability bisnis. Mereka yang berbisnis dengan market yang kecil, banyak kompetitor, dan juga jenuh umumnya kurang sustain. Bisa aja si diawal sukses, tapi kalo bicara masalah sustanability kita bicara jangka panjang. Ada juga yang tahu mereka salah memilih bidang bisnis, kemudian mereka expand ke bisnis yang memiliki rantai nilai tak jauh dari bisnis sebelumnya. Oh ya, ini asumsi kalo sukses bisnis dinilai dari banyaknya revenue yang didapat. Kalo anda menilai sukses bisnis karena bisnis tersebut survive bisa jadi anda punya pandangan lain dengan saya. Contohnya menyikapi orang-orang yang motivasi bisnisnya karena kesenangan/passion. Bisnis distro, indie band, atau game indie. Tapi ada juga yang sukses dalam dua sudut pandang itu. Mereka berawal dari passion dan mereka sukses secara revenue. Analisis saya, mereka sukses karena pas memilih bidang bisnis atau pas pasar sedang mengarah kesitu (terjadi pergeseran asumsi di masyarakat), contohnya terjadi pada industri distro. Walaupun menurut saya, teori ‘passion’ atau ‘lentera hati’ yang pernah disiarkan di kick andy masih bisa menjadi perdebatan. Jujur, saya pribadi bisa menciptakan passion terhadap apapun disekitar saya. Kurang tau kalo temen-temen lain.he..he..

3. Terpaku pada hasil/Uang
Sungguh di dunia ini tidak akan ada hasil tanpa melalui proses yang cerdas, efektif dan bermutu. Saya suka mengkritik motivator-motivator yang suka menggambarkan betapa mudahnya sebuah kesuksesan (terutama orang-orang di bisnis MLM). Seolah-olah hasil tersebut bisa didapatkan hanya dalam sekejap tanpa proses yang cerdas, efektif dan bermutu. Jelas ini filosofi yang menyesatkan. Apalagi kalo framework seperti ini kita gunakan terus dalam dunia bisnis atau misalkan jadi professional. Yang ada walaupun sukses tapi caranya sangat merugikan orang lain dan cenderung tidak adil. Tentu ini tidak baik bagi peradaban dunia ini (halah ngomongnya ko uda peradaban aja..). Lalu kenapa sih orang yang terpaku pada hasil bisa gagal berwirausaha? umumnya yang saya lihat mereka tidak terpaku pada proses. Porsi berpikirnya banyakan hasil daripada proses itu sendiri. Inilah yang membuat mereka gagal. Semacam mimpi tanpa diimbangi eksekusi yang bermutu. Hati-hati untuk para mahasiswa, kadang sikap idealisme sering menjerumuskan pada sikap seperti ini. Makanya sikap idealisme harus diimbangi dengan sikap realisme dan juga konkritisme agar eksekusi atas semua idelisme kita berjalan mulus.

Itu saja beberapa poin penting yang saya amati, mudah-mudahan temen-temen lain yang punya sudut pandang lain bisa menambahkan dengan menjawab pertanyaan, “Kenapa sih anda gagal bisnis?” agar bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.

Arifin Panigoro: Paradigma Baru Insinyur ITB

Nopember 1st, 2008  Tagged

Dulu ketika awal masuk ITB bayangan saya tentang seorang insinyur adalah mereka yang sering ngotak-atik di depan mesin atau alat (kalo anak IF ya komputer). Mereka juga harus freak/geek dengan yang namanya teknologi dan umumnya cerdas secara intelektual. Namun beberapa tahun ini pandangan itu berubah seiring dengan aktivitas saya di dunia entrepreneurship di Kampus. Puncaknya menurut saya adalah pada seminar kemarin (mungkin itu seminar paling besar yang terakhir saya ikuti di ITB) yang diberikan oleh Pak Arifin Panigoro. Insinyur disamping harus geek juga harus memberikan nilai tambah bagi masyarakat secara langsung.

Pergolakan antara kubu progresif dan konservatif di antara jajaran penggede ITB sebenarnya sudah lama terjadi. Kubu konservatif digawangi oleh para guru besar dan beberapa anggota MWA (mungkin sebagian besar). Kubu konservatif tidak ingin hadirnya tokoh-tokoh semacam Arifin, Bakrie, atau Ciputra mewarnai kehidupan ilmiah kampus karena mereka kurang sepakat dengan cara-cara mereka mendapatkan kesuksesan (masih menjadi perdebatan). Mereka juga umumnya menggunakan cara-cara lama untuk menggalang dana ITB (salah satunya mengandalkan USM-ITB). Lain halnya kubu progressif, mereka umumnya digawangi golongan muda (umumnya orang bisnis). Ada juga golongan tua yang secara tidak langsung mendukung seperti Pak Gede Raka dan Pak Iskandar Alisjahbana (paling tidak saya lihat lewat pemikiran2nya). Mereka umumnya mengkritik kebijakan ITB yang menggunakan cara yang kuno untuk mendapatkan dana seiring BHMN-nya ITB sehingga harus nyari sendiri dana untuk operasional. Walaupun sekarang sudah lumayan maju pesat (mungkin karena masuknya beberapa kubu progresif ke jajaran pengambil kebijakan kampus). Salah satu pernyataan ekstrim yang pernah diungkapkan Pak Iskandar adalah usulan untuk memberikan DrHc kepada Arifin Panigoro atas jasa-jasanya menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologinya sehingga memberikan nilai tambah yang sangat besar bagi masyarakat. Namun tampaknya itu cukup sulit diwujudkan karena Majlis Guru Besar menolak usulan tersebut (masih dengan alasan yang sama seperti yang sudah saya tuliskan). Namun begitu, saya benar-benar bersyukur dengan diundangnya Pak Arifin Panigoro dalam kuliah umum yang dibuka langsung oleh rektor ITB dan dipublikasikan di beberapa media nasional.

Keberhasilan menghadirkan Pak Arifin Panigoro menurut saya memiliki pengaruh yang sangat besar ke depan bagi kemajuan kampus ITB terutama paradigma yang dianut oleh mahasiswa ITB. Tak salah kalau saya mendengar Pak Gede Raka memerintahkan Ibu Presiden KM-ITB untuk mengundang teman-teman mahasiswa sebanyak-banyaknya untuk hadir dalam Kuliah Umum itu. Kuliah Umum kemarin merupakan peristiwa penting dalam sejarah kampus ITB (mungkin bisa diartikan kemajuan kubu Progresif secara politik). Yang sebelumnya sudah didahului oleh simposium-simposium yang menggulirkan isu dikotomi World Class University dan Kontribusi langsung ITB di masyarakat. Walaupun yang saya sayangkan mahasiswa ITB yang hadir dalam Kuliah Umum tersebut cukup sedikit, karena banyak diisi oleh orang luar dan mahasiswa luar.

Ketika melihat publikasi Kuliah Umum tersebut, saya langsung membayangkan seperti ceramah Steve Jobs di Stanford. Kontennya begitu substansial dan mengena ke seluruh pendengar bahkan orang awam pun, selain juga tentunya menginspirasi. Namun ketika mendengar kuliah umum kemarin, saya sebenarnya sedikit kecewa. Kontennya begitu makro dan terlalu mengawang-awang untuk mahasiswa (padahal target audiens utamanya para mahasiswa). Kesan saya seperti mendengarkan kuliah Steve Jobs hilang seketika. Tapi walaupun begitu saya cukup mendapat banyak insight terutama tentang Energi dan Pangan (karena pendidikan sedikit sekali dibahas).

    Saya adalah penggiat entrepreneurship di kampus ITB baik itu dari sisi praktis atau theory. Saya sekarang berguru dengan Prof ByGrave (dosen Babson, Universitas terbaik di bidang entrepreneurship) lewat buku-bukunya. Juga sedang sibuk mempersiapkan paper riset di bidang entrepreneurship di SBM ITB. Selain belajar teori, saya juga punya usaha langsung. Usaha yang saat ini digeluti adalah bidang IT dan Fashion. Sekarang sedang mempersiapkan usaha baru di bidang media.